SETELAH era reformasi, otonomi daerah pun berkembang di Indonesia. Banyak kota atau daerah yang tadinya termarjinalkan atau yang tidak diperhitungkan dan dipandang sebelah mata, diberi kesempatan untuk menjadi kota mandiri. UU No 5/2001 tentang Otonomi Daerah memang membuat banyak perubahan. Masing-masing kota yang merasa memenuhi kriteria, mengajukan diri menjadi daerah otonomi. Tentu tak semua permintaan daerah dipenuhi. Yang memenuhi syarat, disahkan oleh Pemerintah, dan kota itu pun berhak mengelola sendiri pembangunan daerahnya melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD)-nya. Kota tersebut terpacu untuk mengekspos potensi alam atau memacu sumberdaya masyarakat untuk “bersaing” dengan kota-kota yang sudah lebih maju sebelumnya. Ada yang berhasil, tapi ada juga kota yang masih disubsidi oleh provinsi atau pemerintah pusat.

Salah satu kota yang beruntung menjadi kota mandiri adalah Tanjungpinang. Sejak terbentuknya Kota Tanjungpinang, Pemko Tanjungpinang Sebagai Daerah Otonom yang merupakan Pemekaran dari wilayah Kabupaten Kepulauan Riau (Kabupaten Bintan) berusaha menyusun Perencanaan tahapan – tahapan pembangunan, baik yang bersifat fisik maupun nonfisik. Pelaksanaan Pembangunan tidak terlepas dari Visi dan Misi Kota tersebut yaitu terwujudnya Kota Tanjungpinang sebagai pusat perdagangan dan jasa industri, pariwisata serta pusat budaya Melayu dalam lingkungan masyarakat yang agamis sejahtera lahir dan batin pada tahun 2020.

Kota Tanjungpinang terbentuk berdasarkan Undang-undang No. 5 Tahun 2001 Tanggal 21 Juni 2001 dengan Luas wilayah 239,5 km2, terdiri dari 131,54 km2 daratan dan 107,96 km2 lautan.

Ada 7 misi Kota Tanjungpinang yaitu peningkatan sumber daya manusia., pemberdayaan masyarakat, mengembangkan tata nilai kebudayaan melayu, pengembangan dan peningkatan infrastruktur, menjalin dan mengembangkan hubungan kerja sama dalam dan luar negeri, melihara dan memantapkan stabilitas politik, ekonomi, sosial budaya, keamanan dan ketertiban masyarakat, meningkatkan kualitas dan kuantitas aparatur pemerintah.

Kota Tanjungpinang selain unik, juga sangat khas. Unik, karena sejak tahun 2002 menjadi kota otonom yang dipimpin oleh seorang perempuan sebagai walikota hingga tahun 2012 (dua periode). Khas, karena Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau itu sangat kental dengan budaya Melayu, bahkan telah dicanangkan sebagai “Kota Gurindam Negeri Pantun.” Berikut ini, rangkuman percakapan SP dengan Walikota Tanjungpinang Dra Hj Suryatati A Manan.

Bagaimana proses Tanjungpinang menjadi kota otonomi?

Kota ini sebelumnya adalah ibu kota Kabupaten Daerah Tk II Kepulauan Riau, Provinsi Riau. Sejak 1983 berstatus kota administratif. Setelah era reformasi, tahun 2.000, diperjuangkan peningkatan statusnya menjadi kota otonom. Akhirnya, sejalan dengan UU No 5/2001, Tanjungpinang pun menjadi kota otonom, tidak lagi di bawah Kabupaten Kepulauan Riau, yang pemerintahannya berjalan efektif sejak 16 Januari 2002. Kemudian, tahun 2004, Provinsi Kepulauan Riau terbentuk, dan Tanjungpinang menjadi ibu kotanya.

Bagaimana ceritanya Tanjungpinang disebut Kota Gurindam?

Setiap kota biasanya punya julukan khas. Sejak 2002 kota ini dikenal dengan nama Kota Gurindam. Bangsa kita maupun bangsa lain yang memiliki rumpun Melayu pasti mengenal Raja Ali Haji sebagai Bapak Bahasa Indonesia yang juga pahlawan nasional dengan karya agungnya “Gurindam Duabelas.” Raja Ali Haji adalah kelahiran Pulau Penyengat, Tanjungpinang. Selain untuk mengenang karyanya, Gurindam juga merupakan singkatan Gigih, Unggul, Ramah, Indah, Damai, Aman, Manusiawi.

Mengapa kemudian menjadi Kota Gurindam Negeri Pantun?

Sebagai kota otonom Tanjungpinang terus bertumbuh dan berkembang. Berbagai penghargaan nasional diraih seperti di bidang pembangunan, kebersihan, pahlawan nasional, karang taruna dan sebagainya. Meski slogan Kota Gurindam sudah tepat tapi rasanya ada yang kurang, akhirnya didapati kata yang pas, yaitu pantun. Itu sebabnya, pada 29 Juli 2007 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dideklarasikan Tanjungpinang sebagai Negeri Pantun. Dan, kota ini pun dipopulerkan sebagai “Kota Gurindam Negeri Pantun.”

Apa yang dimaksud dengan Negeri Pantun?

Pantun dikenal sebagai satu di antara sastra lisan yang berkembang pada setiap zaman dalam masyarakat Melayu, termasuk di Tanjungpinang. Pantun mengajarkan orang bersopan santun, bertatakrama, beretika, bermasyarakat, dan memaknai rasa kemanusiaan dan beragama serta mencapai kemajuan dalam kehidupan. Pantun telah menjadi corak, citra, dan kreativitas penting bagi orang Melayu. Berpantun dalam setiap kesempatan menjadi ciri khas, bahkan inti yang tidak boleh tidak. Berpidato tanpa menyelipkan pantun rasanya ada yang kurang, bahkan, bisa dianggap tidak tahu adat.

Lalu, adakah alasan lainnya?

Yang paling mendasar dan argumentasi menamakan Tanjungpinang Negeri Pantun adalah mengingat dan mengenang putra terbaik bangsa Melayu (Indonesia) yang lahir, hidup, serta berkarya di Pulau Penyengat pada masa Kerajaan Melayu Riau, yang bernama Haji Ibrahim atau yang dikenal dengan nama Haji Ibrahim Datuk Kaya

Muda Riau. Dia adalah orang Indonesia pertama yang menerbitkan kumpulan buku pantun dengan judul “Perhimpunan Pantun Melayu”, diterbitkan oleh W Bruining, Batavia, tahun 1877, dalam tulisan aksara Arab Melayu (Jawi) dan Latin. Sayangnya, data tentang tokoh pantun tersebut belum ada.

Apa kaitannya pantun dengan seni dan kehidupan?

Sependapat dengan para ahli, pantun adalah ungkapan singkat penuh sopan santun dan seni. Isi pantun menyangkut seluruh kehidupan manusia dan alam lingkungannya. Pantun mendidik orang untuk berbudaya, berperadaban, dan beragama, memperhalus akal-pikiran, budi bahasa, hati nurani, sehingga hidup menjadi tulus ikhlas, penuh berkah, dan rahmat, serta patuh pada Allah Yang Maha Esa.

Jadi, slogan Kota Tanjungpinang itu sudah sangat tepat untuk membangun masyarakat?

Sebutan Tanjungpinang sebagai Kota Gurindam Negeri Pantun sudah sangat tepat, cerdas, dan visioner. Dari kata gurindam dan pantun, sungguh memperjelas bagaimana kota ini dikelola dan masyarakatnya hidup, tumbuh, dan berkembang. Penduduknya menempatkan akal, budi, bahasa, dan kemampuannya dalam bingkai tahu diri, sadar, dan punya harga diri, dan beradat.

Apa saja pengalaman Anda sebagai walikota?

Sejak menjadi walikota administratif (1997-2001), pejabat walikota (2001-2002), walikota periode I (2003-2007), dan periode II (2007 hingga nanti, Insya Allah, tahun 2012), suka-dukanya pastilah banyak. Baik yang menyangkut pribadi, para pejabat di jajaran pemerintahan kota, atau pun masyarakat. Dari yang mengesankan hingga yang menyakitkan, sebagian besar tertuang dalam kumpulan puisi saya yang berjudul “Perempuan Walikota”.

Oya, Anda juga pernah tercatat dalam MURI. Dalam hal apa?

Menjelang berakhirnya masa jabatan walikota dan wakil periode pertama(2007), diadakan pilkada. Saya berpasangan dengan Drs Edward Mushalli, kembali mencalonkan diri sebagai salah satu pasangan dengan nomor urut 1 dari 3 pasang calon. Akhirnya, kami menang dengan suara yang sangat signifikan (84,25%), sehingga Museum Rekor Indonesia (MURI) memberikan penghargaan yang langsung diserahkan oleh Jaya Suprana pada 14 April 2008.

Sebagai perempuan, Anda benar- benar tegar dan kuat, padahal tahun 2006 suami terkasih kembali kepangkuan Illahi.

Terima kasih. Jodoh, lahir, dan mati adalah kuasa Tuhan, tiada yang tahu. Tanggal 5 Januari 2006 sehari menjelang Hari Jadi Kota Tanjungpinangke-222, suami tercinta Ahmad Subroto dipanggil menghadap Sang Pencipta, meninggalkan saya dan keempat anak kami. Berkat dukungan anak-anak, sanak keluarga, dan teman-teman, saya tak perlu larut dalam tangisan yang berkepanjangan, saya menjalani hidup apa adanya, dan menerima segala sesuatu yang diberikan Allah SWT dengan rasa ikhlas.

Kapan Anda mulai menulis puisi?

Sejak tahun 2006 setelah diundang membaca puisi pada acara Gelar Sajak Jalan Bersama di TIM. Puisi pertama saya tulis pada 10 November 2006 bertepatan dengan Hari Pahlawan dengan judul “Janda.” Sehari setelah itu lahir pula puisi kedua berjudul “Melayukah Aku.” Hingga saat ini saya ketagihan menulis puisi dan terus akan menulis.

Apa obsesi Anda selanjutnya untuk Tanjungpinang dalam hal seni?

Kami di Tanjungpinang sedang mengumpulkan sejuta pantun, yang dikumpulkan dari berbagai even dan peristiwa, ditulis oleh anak-anak maupun dewasa, untuk kemudian disortir oleh para seniman atau penyair Tanjungpinang, dan akan dibukukan. Sekarang kira-kira sudah terkumpul sepuluh ribu pantun. Tahun 2012 di Tanjungpinang akan berdiri Istana Pantun, sebagai salah satu wujud slogan “Kota Gurindam Negeri Pantun.” [SP/Rina Ginting]

Sumber: Suara Pembaruan, Minggu, 27 September 2009