Cerpen Leres Budi Santoso

Sontak Mak berdiri di pintu kamar tidur. Mengenakan kain hitam, kebaya hitam, selendang hitam, sanggul besar hitam, dan di lengannya menggantung tas kulit hitam. Di leher Mak juga melingkar kalung warna hitam, lengkap dengan manik-manik hitamnya.

Mak tersentak ketika mata kami saling bertemu. Matanya membeliak. Dengan wajah gusar Mak perlahan-lahan mundur. Dan, sebelum aku benar-benar mempercayai penglihatanku atas Mak, Mak sudah menjelma menjadi laron. Kukejar Mak ke ruang tamu, serta merta Mak masuk ke dalam cahaya lampu neon. Bagai asap rokok, Mak dihisap neon 9 watt di ruang tamu.

Aku tertegun. Aku berada dalam keraguan dengan penglihatanku. Mak demikian jelas dan kasat mata dalam penampakannya, jauh dari yang kuharap semula.

“Mak…Mak…!” seruku dalam hati sambil menengadah memandangi neon.

Di jalan depan rumah, di bawah tenda terpal yang dibentangkan seadanya, masih kudengar cakap-cakap orang melekan. Bapak, kakak dan kakak iparku menemani mereka. Mereka ngobrol sambil menghisap rokok. Berteman kopi dan gorengan.

Aku tidak sedang tidur ketika Mak menampakkan diri tadi. Aku masih dalam kondisi sadar. Pukul 12.15 aku masih melekan, pamit kencing (di samping bosan karena orang-orang yang melekan sedari tadi bertanya terus soal politik kepadaku), lalu tidur-tiduran di amben Mak. Sambil berbaringan, sebagaimana dilakukan banyak saudaraku, kutunggu kedatangan Mak.

Ya, pada malam ke-40 ini Mak sewaktu-waktu muncul untuk “pamit” kepada kami –suami, anak dan kerabat yang masih hidup di dunia. Kami yakin bahwa pada malam ke-40 ini arwah Mak akan menampakkan diri sekilas-kilas, baik melalui mimpi maupun tidak.

Selama 40 hari dari kematiannya, demikian wejangan Modin Juhari menjelang pemberangkatan jenazah Mak ke kuburan, arwah Mak masih bersama kami, tinggal di dalam rumah, berkunjung ke rumah anak-anak dan beranjangsana ke sanak famili.

“Seperti sebelum kematiannya, Ibu Rukayah juga duduk-duduk di kursi, tidur-tiduran di amben, jalan-jalan di rumah. Melihat anak dan cucu-cucunya. Ibu Rukayah sedih melihat kita semua. Ibu Rukayah dapat melihat kita, tapi kita tak bisa melihat Ibu Rukayah. Baru setelah malam ke-40 arwah almarhumah meninggalkan kita semua menuju alam baka,” kata Modin Juhari.

Aku kembali beringsut ke kamar Mak. Berbaringan di amben. Mataku menerawang jauh ke langit-langit. Ya, mengapa Mak demikian jelas menampakkan diri? Dan, ah, pasti ini ada hubungannya dengan kemarahan Mak kepadaku, lantaran aku baru datang menjenguknya setelah Mak enam hari menjadi kembang amben.

“Mengapa kamu baru datang sekarang? Apa nggak ada yang ngabari kamu? Apa kamu sudah nggak mau lagi Makmu? Apa kamu sudah jijik melihat Mak? Kamu malu melihat Mak, karena kamu sudah menjadi pejabat, sering muncul di koran-koran,” kata Mak dengan suara lemah.

Dada Mak tipis. Payudara yang dulu untuk menyusui kelima anaknya itu hilang disedot waktu. Tubuhnya benar-benar kurus. Juga kakinya menyerupai selonjor pipa 24 dim. Oh, pangkal lengannya… pangkal lengan Mak yang empuk, hangat dan harum, yang semasa aku kecil sering kucium-cium sampai aku tertidur itu kini sangat kisut.

Tubuh Mak cepat sekali memuai.
Mak terus-menerus diam. Matanya berkedip-kedip memandangi langit-langit. Nafasnya berat. Jari telunjuknya menggarit tutup bedak talek.
***
Sungguh. Aku menyesal karena tidak berada di samping Mak saat detik-detik ajalnya. Seharusnya aku ke rumah sakit ketika kali pertama kakakku mengabarkan lewat HP bahwa pukul 18.30 Mak kritis. Waktu itu aku bertahan di ruang rapat, merancang kemenangan partai pada pemilu mendatang.

Aku juga bergeming di ruang rapat meski kakakku meneleponku lagi untuk kedua kalinya, dua jam kemudian. Lagi-lagi kakak mengabarkan kondisi Mak. “Jangan kau matikan HP-mu. Kalau ada apa-apa biar cepat mengabarinya,” kata kakak.

“Baik,” ujarku sambil mengedarkan pandang ke peserta rapat.
Dalam hati sebenarnya aku ingin berkata pada fungsionaris partai yang ikut rapat malam itu: lihatlah aku, meski ibu kandungku sakit parah pun aku masih mementingkan partai. Partai adalah segala-galanya. Hidup partai!

Saudara-saudaraku mendukung keterlibatanku di partai. Itulah sebabnya mereka memahami kalau aku tidak sempat ke rumah sakit, meski Mak kritis. Bagi keluarga, aku adalah pahlawan yang mengangkat derajat mereka. Politik telah memberi kehormatan pada keluarga kami.

(Lihat saja, beratus-ratus orang mengantarkan jenazah Mak ke kuburan, dan setelah itu seolah tiada habis-habisnya orang bertaziah ke rumah kami. Oh ya, di antara tamu itu terdapat dr Kaslan. Dia adalah dokter spesialis mata yang mendaftar menjadi Dewan Perwakilan Daerah dari provinsi kami, yang kemudian diketahui oleh tim verifikasi bahwa 13 dari 7.600 fotokopi KTP bukti dukungannya ternyata KTP orang gila).

Siapa yang tak mengenal aku, ketua Komisi D DPRD Kota A? Statemenku sering dikutip koran. Wajahku kerap muncul di TV lokal. Ketika DPRD berseteru dengan Hotel B lantaran perluasan gedungnya memakan sepadan jalan, sebagai ketua Komisi D aku nyaris menjadi pahlawan. Perintahku singkat saja pada pengelola Hotel B, “Bongkar. Titik!” Padahal pembangunan gedung sudah berlangsung 40 persen.

Seharusnya seperti itulah; kapan harus galak, tapi kapan pula harus lembek dan kompromis dengan pelanggar.
Ya, berkat politik semua biaya pengobatan Mak terlunasi. Dan benar, politik telah memberiku segala-galanya. Bukan hanya kehormatan dan harga diri, tapi juga materi. Siapa aku sebelum menjadi anggota DPRD? Hanyalah montir lepas di sebuah toko suku cadang motor. Lalu ikutan yel-yel dalam kampanye pemilu, blayer-blayer motor, arak-arakan sambil mengikat kepala dengan kain, ikut rapat, sampai akhirnya menjadi pengurus ranting. Dikejar-kejar rezim Orba, ditangkap, diinterogasi, ditahan, dilepas, dikejar-kejar, dijebak, digebuki, dilepas lagi, dikejar-kejar, dst.

Nasib baik terus berpihak kepadaku. Sampai akhirnya, ketika Orde Baru tumbang, aku naik menjadi pengurus cabang. Namaku masuk nomor jadi caleg untuk kotaku. Pemilu tahun 1999 partaiku menang, dan nasibku berubah 180 derajat.

Menjelang pemilu, dalam konfercab aku terpilih sebagai ketua cabang. Aku harus mati-matian berjuang agar dalam pemilu mendatang partaiku meraih suara terbanyak lagi. Sejengkal lagi, sejengkal lagi… ah, apa salahnya bekas montir yang bajunya berlepotan gemuk dan oli menjadi wali kota? Aku percaya bahwa nasib baik akan selalu berpihak kepadaku.

Kadang, bila membayangkan kelak aku menjadi wali kota, aku geli sendiri. Betapa tidak, pria seperti aku, dengan sisiran belahan tengah, menjadi wali kota. Ke mana-mana naik Volvo, dikawal ajudan. Aku berkantor di ruang kerja yang luas, dengan tamu yang tiada hentinya menunggu. Aku selevel dengan Kapolwil dan Danrem. Di mana-mana aku disambut secara terhormat. Aku berpidato, bertandatangan di muka umum, dan berkalung bunga.

Ribuan pegawai pemerintahan, mulai dari sekkota hingga hansip di pos parkir, manut pada perintahku –sudah pasti, dulunya di antara mereka pernah menggunakan jasaku sebagai montir. Aku pun tinggal di rumah dinas dengan penjagaan hansip. Sebagai wali kota tentunya banyak yang kuurus, mulai soal pemerintahan, kebersihan, pedagang kaki lima sampai sepak bola.

Kadang-kadang aku bercermin: pantaskah aku jadi wali kota? Pantas, jawabku. Politik adalah alat untuk meraih kekuasaan. Kalau partaiku memang menang dalam pemilu, disusul pemilihan wali kota yang bersih dari permainan uang, apa salahnya kalau kemudian aku menjadi wali kota? Jika semasa Orba, tentara (termasuk dokter tentara) selalu menjadi wali kota di Kota A, apakah di zaman reformasi ini seorang montir tidak boleh menjadi wali kota?

Bisakah aku menjadi wali kota? Semua mesti melalui proses belajar. Megawati juga belajar jadi presiden. Amien Rais juga masih belajar menjadi ketua MPR. Bahkan Soekarno, Hatta dan Sutan Sjahrir dulu juga belajar menjadi presiden, wakil presiden dan perdana menteri walau mereka sudah resmi menjadi presiden, wakil presiden dan perdana menteri. Di negeri ini tak ada sekolah yang khusus menyiapkan seseorang menjadi presiden, wapres, perdana menteri, ketua MPR, ketua DPR, atau wali kota sekalipun.

Ah, keluargaku pasti bangga jika kelak aku menjadi wali kota. Tapi, kenapa Mak mesti meninggal dulu sebelum melihat anaknya menjadi “orang besar”?!

Jam menunjukkan pukul 00.15 ketika kakak sulungku meneleponku lagi. Waktu itu aku baru saja menutup rapat yang penuh perdebatan sengit. “Mak meninggal! Tidak usah ke rumah sakit karena jenazahnya langsung dibawa pulang,” katanya.

Deg. Darahku serasa berhenti mengalir. Terngiang kembali permintaan Mak bahwa dia ingin ditunggui anak-anaknya di akhir hidupnya. Seperti apa perasaan Mak, ternyata di antara anak-anaknya yang menunggui itu tak ada aku di sana?
***
Malam sudah pukul 01.30. Cakap-cakap orang melekan. Sesekali terdengar tawa lemah, tapi kemudian cakap-cakap lagi dalam intonasi datar. Aku sengaja tidak tidur. Kutunggu penampakan Mak lagi, bahkan sampai fajar datang sekalipun. Kukenang-kenangkan masa kecilku bersama Mak. Tapi sialnya, kenangan indah itu selalu beraduk-aduk dengan bentak-bentak, gebrak-gebrak meja dan teriak-teriak di ruang rapat partai. Seperti gambar yang silih berganti merebut imajinasi.

Dan, tiba-tiba saja Mak muncul lagi di ambang pintu kamar tidur. Mak mengenakan kain hitam, kebaya hitam, selendang hitam, sanggulnya besar, dan di lengannya menggantung tas kulit hitam. Di leher Mak juga melingkar kalung warna hitam, lengkap dengan manik-manik hitamnya. Setelah mata kami saling bersitatap, sontak Mak menjelma menjadi seekor laron. Mak berterbangan di dalam kamar, sesekali Mak menabrak-nabrak lampu neon hingga menimbulkan bunyi berdetik.

Aku serasa tidak percaya dengan penglihatanku. Ya, untuk kedua kalinya Mak menampakkan diri secara kasat mata. Anehnya, mengapa Mak mesti menjelma seekor laron segala?

Tetap saja Mak berterbangan dengan liar di dalam kamar. Berputar-putar, sayapnya mengepak ribut. Dan, mendadak Mak berhenti berkepak, mengapung di udara, tepat di atas tubuhku. Lalu, tanpa kusangka-sangka, wajah Mak menjelma utuh dan sayap-sayapnya berubah menjadi kedua tangan yang melambai-lambai kepadaku. Mak tersenyum hangat seraya memanggil-manggil namaku!

Entah mengapa kedua tanganku pun tiba-tiba berubah menjadi sayap. Lalu, dengan sayap itu, perlahan-lahan tubuhku mengapung ringan. Kedua tanganku akhirnya mengepak (siapa yang mengajari kami berkepak-kepak seperti ini?) Mula-mula kukepakkan sayapku dengan perlahan-lahan, tapi kian lama kian cepat, sampai aku tak bisa membedakan apakah aku sedang berkepak atau tidak, sedang mengapung di udara atau berpijak di bumi. Kepakan ini menimbulkan desauan dan desiran angin di telingaku.

Aku dan Mak terbang beriringan, berkitar-kitar di seputaran lampu neon dan sesekali menubruknya hingga menimbulkan bunyi berdetik. Mengapung di kamar yang penuh sinar lampu neon, kamar yang sudut-sudutnya menumpuk berkarung-karung beras, mie dan gula. Kemudian Mak mengajakku masuk ke dalam neon. Mak membiarkan saja tubuhnya dihisap lampu neon.

“Tidak, Mak. Tidak! Aku tak ingin ikut Sampean. Aku masih ingin jadi wali kota!” seruku sambil meronta.
Oh, ternyata aku sedang bermimpi. (*)